Kita sebagai manusia pasti pernah marah, ini memang sudah menjadi sifat manusia. Memang sesungguhnya terdapat suritauladan dari diri Rasulullah SAW.
“ Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang-orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan Hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah “ ( Al Ahzaab : 21)
Ini ada beberapa referensi kalau kita pengen marah sebaiknya baca dulu ya…hehehehe.
Diceritakan pada satu hari Rasul SAW bertamu ke rumah Abu Bakar Shiddiq. Ketika keduanya sedang asyik bercengkerama, tiba-tiba masuk seorang Arab dusun. Tanpa basa basi, lelaki itu langsung mencela Abu Bakar. Mertua Rasulullah SAW ini tidak menghiraukannya. Ia melanjutkan perbincangan dengan Rasulullah. Melihat sikap Abu Bakar ini, Nabi SAW tersenyum. Lagi-lagi si Badui itu mencaci Abu Bakar dengan kata-kata yang lebih kasar. Namun, dengan keimanan yang kokoh serta kesabarannya, Abu Bakar tetap membiarkan orang tersebut. Rasulullah kembali memberikan senyum. Semakin marahlah di Badui itu. Untuk ketiga kalinya ia mencerca Abu Bakar dengan makian yang lebih menyakitkan. Kali ini selaku manusia biasa yang memiliki hawa nafsu, Abu Bakar tidak dapat lagi menahan amarahnya. Dibalasnya makian orang Arab itu dengan makian pula. Terjadilah perang mulut. Seketika itu Rasul SAW berangkat dari tempat duduknya. Ia meninggalkan Abu Bakar tanpa mengucapkan salam. Melihat hal ini, Abu Bakar tersadar dan menjadi bingung. Dikejarnya Rasul SAW yang sudah sampai di halaman rumahnya. Kemudian Abu Bakar berkata : “ Wahai Rasulullah, janganlah Anda biarkan aku dalam kebingungan. Jika aku berbuat kesalahan jelaskan padaku “. Rasul SAW menjawab : “ Sewaktu Si Arab Badui itu mencelamu, dan engkau tidak menanggapinya, aku tersenyum karena banyak Malaikat di sekelilingmu yang akan membelamu dihadapan Allah. Begitupun, yang kedua kali ketika ia mencelamu dan engkau tetap membiarkannya, maka para malaikat semakin bertambah banyak jumlahnya. Oleh sebab itu aku tersenyum Namun, ketika kali yang ketiga ia mencelamu dan engkau menanggapinya, dan engkau membalasnya,maka seluruh Malaikat pergi meninggalkanmu. Hadirlah Iblis di sisimu. Oleh karena itu, aku tidak ingin berdekatan dengannya, dan aku tidak memberikan salam kepadanya.”
Wasiat Rasulullah SAW
Menahan amarah termasuk wasiat dan nasehat Rasulullah saw yang beliau anjurkan kepada seluruh umat ini, sebagaimana disinyalir dalam sebuah hadits: Abu Hurairah ra berkata: Ada seseorang datang menemui Nabi saw seraya berkata: ‘ Wahai Rasulullah, berilah aku wasiat’. Maka Rasulullah saw bersabda: ‘ Jaganlah kamu marah’. Beliau mengulanginya berkali-kali, dengan berkata: ‘Janganlah kamu marah’. ( HR. Bukhari 6116, Ahmad 2/362 )
Dipuji oleh Allah SWT
Inipun termasuk keutamaan menahan marah, Allah akan memuji orang yang menahan amarahnya dihadapan seluruh makhluk, sebagaimana dalam sebuah hadits: Dari Muadz bin Anas al-Juhani bahwasanya Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa yang menahan amarahnya sedangkan ia mampu untuk mewujudkannya, Allah akan menyebut dan memujinya pada hari kiamat kelak dihadapan seluruh makhluk, hingga dia diberi pilihan untuk mengambil bidadari mana saja yang ia kehendaki. (HR.Tirmidzi 2021, Abu Dawud 4777, Ibnu Majah 4186, Ahmad 3/440. Dihasankan oleh al-Albani dalam Shahih Targhib 3/48 )